January 22, 2015

Bekerja Sebagai Pelajar di Prancis: Informasi, Peluang, Tips dan Trik




Mencari kerja job étudiant (kerja kecil-kecilan sebagai student) atau kerja fulltime di negara asing tempat kita belajar adalah hal yang sangat menantang. Banyak orang bilang sulit, tetapi bukan berarti tidak mungkin. Sebagaimana nasihat profesor  saya terngiang di telinga saya “voir la bouteille à moitié pleine plutôt qu'à moitié vide” yang artinya kita harus lihat botol dalam kondisi setengah penuh bukan setengah kosong. Melihat peluang dalam setiap kondisi dan celah.

Di sini, saya akan membagi pengalaman suka duka saya, jerih payah, serta lelah, lesu, lunglai dalam pencarian kerja sebagai mahasiswi di Lyon, dan sekarang di Chambéry (notabenenya kota Chambéry lebih kecil dari Lyon). Saya juga akan berbagi tips dan trik manggaet si kekasih tercinta “lowongan pekerjaan”. Pertama-tama, saya akan menjelaskan mengenai jenis-jenis pekerjaan yang bisa kita apply sebagai pelajar di Lyon, lalu waktu yang tepat untuk apply kerja tersebut, serta tidak lupa  perkiraan gaji yang bisa kita terima.

Walaupun dalam artikel ini, saya mengungkapkan pengalaman saya di kota Lyon dan Chambéry, saya pikir apa yang saya alami juga dapat dijadikan referensi bagi teman-teman yang studi di wilayah lain di Prancis, mengingat tidak terlalu banyak perbedaan dalam hal job étudiant di negara ini.
Sebagai pelajar asing di Prancis, kita mempunyai hak untuk bekerja sebanyak 60% dari durasi legal bekerja di Prancis atau sekitar 964 jam/tahun (sekitar 20.50 jam/ minggu) dengan visa de long séjour  tertulis "étudiant" dan  carte de séjour temporaire  tertulis "étudiant".

Akan tetapi, untuk teman-teman yang kuliah dengan program Alternance atau yang biasa kita sebut dengan program kuliah dan magang (le contrat d’apprentissage untuk yang berumur antara 16-25 tahun), kalian bisa melakukan permohonan untuk izin kerja ke DIRECCTE dengan membawa dokumen yaitu :
· Kartu carte de séjour temporaire dengan tulisan « étudiant » atau récépissé de renouvellement de la carte yang masih berlaku
· Kartu pelajar
· Bukti sertificat pendaftaran formasi untuk minimal level master atau formasi dengan titulaire « travail salarié »
· Fotokopi kontrak kerja « contrat d’apprentissage, promesse d’embauche, ataupun surat keterangan hubungan kerja »   

Satu hal yang harus diingat, teman-teman harus berhati-hati apabila ingin bekerja di negara yang berbatasan dengan Prancis, atau daerah frontier. Sebagian besar negara-negara ini tidak memperbolehkan kita dengan yang memiliki permanent residence Prancis untuk bekerja di negaranya karena kita bukan warga negara Uni Eropa.

Sebagai contoh di Swiss, saya sempat mendapatkan wawancara kerja untuk bekerja di bandara Geneva. Namun,saya menghadapi permasalahan terkait izin kerja karena saya adalah warga negara di luar Uni Eropa walaupun saya mempunyai carte titre de séjour Prancis. Kita pun tidak dapat bekerja di Swiss bahkan jika  kita mempunyai kartu permanent residence Prancis 2 tahun ataupun 10 tahun.

Ada beberapa macam jenis pekerjaan yang dapat ditemukan., Mulai dari pekerjaan untuk pelajar (job étudiant),  pekerjaan musiman (job saisonnier/ d’été),  pekerjaan gelap (travail au noir). Penting bagi kita untuk memahami setiap jenis pekerjaan ini sebelum memutuskan mana yang harus kita daftar.

Job étudiant dapat kita temukan dalam beberapa bentuk, bisa dalam wujud kontrak jangka pendek (CDD) atau kontrak jangka panjang paruh waktu (CDI à temps partiel).  Sedangkan pekerjaan musiman (job saisonnier) biasanya hanya dapat kita lakukan selama liburan dingin (Desember – Januari atau Februari) dan musim panas (Juni-Agustus).

Nah, bagaimana dengan waktu yang tepat untuk mendaftar pekerjaan? Berikut saya rangkum dalam tabel dengan penjelasan waktu pendaftaran untuk setiap tipe pekerjaan :

Jenis Pekerjaan
Waktu ideal pendaftaran
Contoh jenis pekerjaan
Paruh waktu (CDD/CDI à temps partiel) untuk tahun ajaran baru
Agustus – September
-Baby-Sitter
-Soutien scolaire (guru privat)
-Vendeur (penjual di toko/pasar)
-Nettoyage/ femme de chambre (cleaning service di rumah pribadi, hôtel, kantor)
-Plongeur (pembersih peralatan makan), serveur
-Resepsionis, dll
Job saisonnier vacances Noël (Desember-Januari/ Februari)
September –Oktober
-Animateur
-Pet-sitting
-Vendeur/animateur di bandara, dll
Job Saisonnier Vacances d’hiver Februari
Oktober- Awal Januari
-Animateur des enfants/ Adultes
-Vendeur / animateur di bandara
Job Saisonnier Vacances Printemps
Tergantung perusahaan tetapi rata-rata dari bulan Februari-awal April
-Accueil Banque
-Animateur des enfants/ vacances
Job d’été
Maret/April –Mai
-Agent d’accueil
-Agriculture (pemetik buah)
-Animateur
-Inventaire, caisse, delivery, Manutentionnaire(pengaturan rayon dan stock di supermarket)
-Resepsionis
-Nettoyage/femme de chambre
-Pet-sitting, dll
Job Mission
Kapan saja, tergantung misi
-Enquêteur (tukang survey)
-Street-marketing (pembagi flyers, penjualan product dengan membagi sampel gratis)
-Animateur vente (seperti street-marketing akan tetapi di dalam toko atau mall)
-Travail d’affichage publicitaire (memasang poster iklan di jalan)
-Ambassadeur de Marque
Magang mulai bulan februari
Oktober/November
Semua jenis pekerjaan
Magang musim panas (Juni/juli-Agustus/September)
Maret - awal April
Semua jenis pekerjaan


Perkerjaan-pekerjaan tersebut bisa kita temukan lewat situs pekerjaan di masing-masing universitas, di papan pengumuman kantor balai kota (Mairie dan Hôtel de Ville), sekolah (SD, SMP, SMA), ataupun di papan pengumuman perpustakaan kampus, toko roti, dan tentu saja, melalui internet.

Saya akan melampirkan beberapa situs yang bisa teman-teman gunakan untuk mencari kerja yang dapat di akses secara gratis, yaitu:




Berdasarkan pengalaman saya, situs L’Etudiant, Student Job, Jobetudiant, CRIJ, dan Adecco memberikan saya banyak panggilan untuk wawancara. Tetapi, bukan berarti situs-situs yang lain tidak memberikan kita peluang untuk pekerjaan ya… karena tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini.

Pendaftaraan melalui Club Étudiant untuk assuransi pelajar SMERRA dan LMDE, dalam jangka waktu kurang lebih seminggu atau dua minggu, teman-teman akan mendapatkan panggilan wawancara melalui telepon. Sama halnya dengan Adecco, setelah mendaftar, biasanya kita akan langsung mendapatkan panggilan wawancara melalui telepon untuk tahap pertama dengan agen Adecco, lalu wawancara tahap kedua dengan perusahaan (bisa langsung tatap muka ataupun telepon).

Lalu sekarang pertanyaan yang tentu sangat penting, bagaimana dengan gaji yang diterima? Saya akan hanya sharing jumlah gaji berdasarkan pengalaman pekerjaan saya. Sebagai Enquêtreur/Trice, saya dibayar berdasarkan jumlah orang yang saya tanya untuk survei. Gajinya adalah sekitar 1,50€ kotor per orang yang disurvei dengan prime. Atau dengan jumlah total sekitar 20.27€. Akan tetapi, peraturan gaji ini tergantung dengan masing-masing agen survei. Ada pula pengalaman teman saya lain untuk pekerjaan ini, dia di bayar dengan gaji SMIC atau reguasi upah minimum yaitu 9,53€ kotor per jam.

Untuk pekerjaan baby-sitting, rata-rata gaji yang bisa kita terima adalah antara 7€-10€ per jam. Terkadang untuk baby-sitting kita tidak menandatangani kontrak jadi dapat dikatakan kita kerja  gelap (travail au noir). Hal ini sebenarnya tidak terlalu berbahaya atau berisiko secara legal. Hanya saja, kita tidak akan mendapat uang pensiunan nanti dan penambahan porsi uang CAF (APL).

Sedangkan untuk pekerjaan lainnya seperti street-marketing, vendeur, dan lain-lain, gaji yang diberikan rata-rata sesuai dengan standar SMIC (9.53€ kotor). Jumlah gaji yang kita terima bergantung dengan jumlah jam kerja kita. Sebagai contoh saat saya kerja sebagai pembagi flyer, saya bekerja selama 8 jam dan gaji yang saya terima 62,62€ bersih. Jadi gaji bersih yang saya terima sekitar 7.82€ bersih per jam.




Kalau kalian menjadi guru, gaji yang dapat kalian terima sekitar 10€-12€ per jam. Saat ini, saya menjadi guru bahasa Inggris dengan pendapatan 12€/jam net dengan prime. Untuk mendapatkan informasi pekerjaan sebagaiai guru privat, kalian juga bisa melihat situs Complétude (saya bekerja dengan mereka sekarang dan kinerja mereka untuk para pekerjanya bagus) atau dengan Acadomia. Akan tetapi untuk mendaftar di kedua situs tersebut, kalian harus memenuhi salah satu persyaratannya ; yaitu kalian harus minimal telah menyelesaikan study tinggat S1.

Untuk teman-teman yang belum mendapatkan ijazah S1-nya, jangan khawatir. Kalian dapat mendaftar di situs https://www.bygroop.fr/ untuk memasang iklan jika kalian ingin memberikan les bahasa, musik, atau kemampuan lainnya.

Bagaimana dengan penjual di pasar? Berdasarkan pengalaman teman saya yang berjualan di pasar, dia mendapatkan gaji bersih 50€ untuk 5 jam dari jam 7 pagi hingga 12 siang. Sebagai tukang bersih-bersih, saya dulu bekerja tanpa kontrak. Akan tetapi saya mendapatkan gaji 10€/jam. Pengalaman teman saya yang bekerja sebagai cleaning service dengan agen, dia mendapatkan gaji 10€/jam net.

Bagaimana dengan pet-sitting? Gajinya bergantung dengan pemilik hewan tersebut. Biasanya sekitar 8€ per jam hingga 12€/jam. Akan tetapi banyak orang yang memberikan tarif paket untuk beberapa minggu atau bulan. Untuk mendapatkan informasi lebih lengkap, kalian bisa mengunjungi website www.gardicanin.fr jika tertarik dengan pekerjaan pet-sitting.

Selain itu bagi teman-teman yang ingin bekerja musim panas di bank, kalian bisa coba mendaftar di LCL karena setiap tahun mereka selalu membuka peluang pekerjaan job d’été (http://www.lcl.com/recrutement/etudiants/job-vacances.jsp) atau kalian bisa datangi satu persatu agen bank lain yang ada di Lyon.

Pasti teman-teman sekarang berpikir, “bagaimana sih caranya mendapatkan pekerjaan dengan mudah?” atau “saya sudah cari-cari di internet semalam suntuk tapi gak dapat-dapat”. Salah satu solusinya adalah SABAR. Terkadang panggilan pekerjaan tidak akan datang dengan sendirinya dan tidak mungkin langsung jatuh dari langit. Kalian harus giat-giat melihat situs pekerjaan yang ada, selain itu informasi mengenai forum pekerjaan atau magang.

Sebagai contoh, di Lyon setiap bulan September dan April selalu di adakan forum pekerjaan (forum job d’éte untuk bulan April). Selain itu, kalian harus sering kunjungi forum pekerjaan yang diselenggarakan oleh beberapa universitas seperti Université Lyon 3 yang selalu menyelenggarakan forum tersebut setiap tahun untuk pekerjaan musim panas. Selain itu, kalian juga harus sering melihat situs dari Mairie de lyon, Lyon Campus, atau Office de tourisme Lyon. Mereka biasanya membuka lowongan pekerjaan musim panas. Untuk Mairie de Lyon, aplikasi untuk pekerjaan musim panas harus di kirim paling lambat sekitar tanggal 30 April melalui situs www.recrutement-mairie.lyon.fr.  

Selain proses pencarian pekerjaan yang merupakan hal yang vital, persiapan untuk wawancara juga merupakan hal yang perlu kita siapkan. Penampilan kita saat wawancara harus kita perhatikan. Usahakan kita mempersiapkan presentasi mengenai profil kita (pendidikan, pengalaman pekerjaan dan pengalaman kepemimpinan di organisasi, serta kemampuan bahasa yang kita kuasai) tidak lebih dari 5 menit. Sangat penting juga bagi teman-teman untuk mempelajari profil perusahaan yang kita incar untuk memberikan gambaran bahwa kita memiliki visi dan nilai yang sama dengan pekerjaan yang kita lamar.


Voilà ! Sekian informasi saya seputar pekerjaan dan tips dan trik untuk mendapatkannya. Semoga informasi bermanfaat untuk teman-teman. Selamat ber-hunting ria et bonne chance!


Penulis: Awatrawika Atmyanegoro (M1 IAE Savoie Mont-Blanc)




Sumber : meltycampus.com    

December 18, 2014

Memaknai Perayaan Natal: Antara Tradisi dan Pandangan Modern



Secara global, Natal harus ada pohon cemara, Sinter Klas plus Piet Hitam, dan tentu kado-kado cantik. Artikel-artikel penarik atmosfer Natal ini seperti menjadi jargon ikonik yang menggantikan makna tanggal tersebut. Saya terdidik melalui masyarakat sosial, termasuk gereja, bahwa mitos dan aksesoris tersebut cukup untuk memaknai Natal. Natal yang selalu datang dengan harapan, harapan akan bingkisan kado, yang, entah dari mana, harus ada di hari-hari itu.

 Beberapa pusat perbelanjaan melengkapi industri pendukung Natal dengan menghadirkan acara-acara temu Sinter Klas plus Piet Hitam atau pentas kompetisi musik dan paduan suara gerejawi. Kenapa saya sebut industri? Melihat potensi besar dari pasar, tentu produsen harus jemput bola. Logika komersial ini menghadirkan produk-produk suplementer yang sebenarnya jauh dari kebutuhan dasar penunjang makna Natal. Ambil contoh keberadaan pohon cemara sebagai aksesoris yang tidak boleh absen di ruang tamu hampir semua umat kristiani, di sini saya tidak menemukan koherensi antara pohon cemara dan kelahiran Yesus. Atau Sinter Klas dan Piet Hitam. Seperti apa silogisme kehadiran mereka berdua yang berkontribusi dalam kelahiran Yesus? Tidak ada! Kedua hal tersebut melekat menjadi tradisi Natal dunia barat (kemudian menyebar ke dunia timur) yang ditunggangi kepentingan-kepentingan kapitalis, kepentingan yang melihat agama sebagai pasar potensial yang tidak habis dimakan zaman Namun saya tidak secara naif menyebut hal tersebut salah, hanya kurang baik secara substantif untuk pendidikan theologi.

Padahal Natal sendiri, sebagai momen inisiasi munculnya kekristenan, memiliki banyak sekali kontroversi terkait tanggalnya. Rentang waktu yang jauh, melewati beberapa pergantian penanggalan, dan persebaran sejarah yang saling klaim, sepertinya mampu mengaburkan fakta sejarah tentang tanggal persisnya. Mengutip sejarawan dan budayawan Indonesia, Bambang Noorsena, penetapan hari Natal mula-mula ditentukan oleh pemimpin Gereja Ortodoks Koptik di Mesir pada 180 M yaitu Pope Demetrius of Alexandria (berdasar Koptik Didas Kalia Apostolorum) yang sudah menggunakan penanggalan Bintang, yaitu pada tanggal 29 bulan Kyiah. Sebelumnya, Gereja Mula-Mula masih menggunakan penanggalan orang Farisi, yaitu penanggalan Qamariah. Tanggal 29 bulan Kyiah Mesir ini setara dengan tanggal 24 bulan Tebet di Ibrani dan tanggal 7 bulan Januari penanggalan matahari Jullian (penanggalan bangsa Yunani Ortodoks yang mulai digunakan bersamaan dengan berdirinya kota Roma), bahkan setara dengan tanggal 19 bulan Januari penanggalan Kapadokian oleh Gereja Armenia. Baru kemudian pada abad ke-15 dilakukan revisi penanggalan Jullian ke Gregorian (dari paus gregorious XIII), yang otomatis merubah ke tanggal 25 bulan Desember.

Tentu fakta sejarah ini hanya satu serpihan kecil untuk mendukung makna Natal, makna kelahiran Yesus. Karena keimanan memang sudah seharusnya bersinergi dengan sejarah. Kemudian, saya menganggap, opini-opini pendukung tentang ritus-ritus pagan Dewa Matahari yang dikaitkan dengan tanggal tersebut merupakan bumbu-bumbu yang memang harus ada untuk menguji kebenaran historis tentang kelahiran Yesus. Persoalan beberapa gereja yang kemudian antipati tentang perayaan 25 Desember, tentu bukan di sini ranah pembahasannya, selain memang bukan domain dari saya.





Berbicara mengenai Natal di Lyon, penting bagi kita untuk menilik tradisi religius di kota ini. Lyon merupakan kota pertama di Perancis (sejak abad ke-3) yang mengadopsi dan mempertahankan pandangan Katolik yang  cenderung konservatif dan sulit mengikuti dinamika kekristenan. Satu contoh, adat Gereja Katolik seringkali menentang pernikahan antara pasangan Katolik-Protestan, dengan anggapan bahwa doktrin-doktrin dari Gereja Protestan adalah tidak benar dan menyalahi tradisi Gereja Mula-Mula. Padahal, lahirnya gereja Protestan adalah bentuk gerakan reformasi tentang penyelewengan melalui tindakan oligarki dan tirani oleh gereja Katolik Roma sebagai pemegang kekuasaan di era 1500 M. Namun sebenarnya, internal Gereja Katolik pada abad  ke-12 di Perancis sudah melakukan gerakan reformasi tentang hal-hal tersebut (dipimpin oleh Peter Waldo, yang sekarang dikenal sebagai gereja Waldensis). Belum lagi paradigma tentang doktrin dan liturgi yang dapat berbeda sama sekali. Dalam hal ini saya pernah mendengar satu opini dari satu Lyonnais1, bahwa komunitas tempat saya beribadah tidak bisa disebut sebagai gereja2. Di sisi lain Gereja Protestan pun sebenarnya tidak bisa dikatakan yang terbaik, karena berbanding lurus dengan waktu, denominasinya begitu dinamis dan kadang menjadi lepas kontrol. Ambil contoh keberadaan misionaris-misionaris yang gerilya di daerah jajahan pada era Kolonialisme, mereka begitu mudahnya menukar keimanan penduduk setempat dengan kebutuhan-kebutuhan primer dan sekunder yang cenderung modernis dan menghapus tradisi serta kearifan lokal. Meskipun harus diakui dan terbukti efektif, tapi hal ini seperti melempar bumerang benih pergolakan.

Merujuk fakta-fakta tentang kekristenan di atas, Eropa (khususnya Lyon) dan  Natal adalah paduan antara pandangan modern dan tradisi ribuan tahun. Disebut modern karena kebanyakan masyarakatnya mulai berpikir logis, menganggap religiusitas sebagai hal tabu yang menjadi persoalan pribadi, atau bahkan ranah pengganggu. Pandangan ini berbeda dengan adat ketimuran yang cenderung memegang prinsip-prinsip tradisional orang tua yang turun-temurun. Meskipun hasil akhir dari kedua blok adat ini tetap saling merayakan 25 Desember bersama keluarga, cara merayakannya pun sama, sama-sama beribadah di gedung gereja masing-masing. Secara garis besar juga memaknai hal yang sama, namun jauh di dalam, kami sama-sama paham tentang adanya perbedaan yang substantif. Entah perbedaan di hulu atau di hilir.



Tidak banyak yang terjadi di Lyon pada Natal, bahkan malam Natal jalanan amat sepi. Hanya ada beberapa orang yang sepulang dari ibadah malam Natal untuk sekedar makan malam atau ngopi di kafe. Hampir semua butik tutup, menyisakan lampu kerlap-kerlip di etalasenya, bertuliskan “Soldes” atau “Joyeux Noel”. Tidak ada pohon cemara bersalju atau paduan suara keliling seperti di film-film Hollywood. Karena kebanyakan orang sebelum Natal sudah memilih untuk berkumpul dengan orangtua dan saudara di daerah asal mereka (ini adalah tradisi warga Eropa, baik itu Katolik maupun Protestan), sedang lainnya memilih berlibur ke Alpen atau Grenoble untuk bermain ski. Sedikit kecewa? Ya, karena bertahun-tahun menjadi seorang Kristiani, saya selalu melewati Natal dalam suasana hiruk pikuk, entah rapat persiapan perayaan Natal, latihan drama/musik/paduan suara, sampai menghias gedung gereja, yang notabene tidak saya temukan dalam dua kali Natal terakhir.




Bersyukur dengan adanya Persekutuan Doa Ouikumene3 Lyon setahun terakhir, yang diinisiasi ibu-ibu Franco-Indo3. Selain ibadah rutin bulanan, setahun ada 2 acara besar, tentu saja Paskah dan Natal. Postur Natal terakhir cukup lengkap untuk dapat dikatakan sebagai perayaan, ada struktur organisasi, rapat pembahasan tema dan pernak-pernik pelengkap acara, serta tentu saja rentetan latihan musik. Yah, untuk acara Natal sekaliber komunitas 30an orang, terbilang sukses dan meriah, bahkan saya klaim sudah mampu meredam rasa kangen tentang Natal-an di tanah air.

Rentetan acara setelah Natal yaitu Tahun Baru. Ada fakta menarik tentang perayaan pesta di Perancis, semua pesta-pesta hari besar apapun tidak boleh lebih meriah dari 14 Juli, Hari Nasional Perancis atau La Fête Nationale. Jadi kemeriahan tahun baru sama sekali tidak ada di Lyon, bahkan Paris. Tahun lalu, saya sendiri berkesempatan menghabiskan akhir tahun di Milan. Sama seperti kebanyakan kota di dunia, malam tahun baru jalanan begitu riuh dengan manusia, aroma bir dan puntung rokok dimana-mana. Semua jalur transportasi menuju kota selalu penuh sesak, karena di pusat kota ada panggung besar dengan artis-artis yang sudah terdaftar untuk memeriahkan malam tahun baru. Dan klise, di puncak malam tahun baru ada pesta kembang api sensasional. Bahkan banyak orang yang sudah menyiapkan petasan-petasan kecil untuk saling dilemparkan ke pengunjung atau turis yang sedang lengah.

Sedikit penutup, pesta atau perayaan atau apapun itu seringkali tidak merepresentasi makna di balik kemunculannya. Bahkan hal-hal yang seharusnya substantif dan sakral tergantikan oleh ikon-ikon yang ditujukan untuk memuaskan rekening para punggawa kapitalis. Fenomena ini tidak hanya hinggap di kekristenan, tapi juga agama-agama lain. Religiusitas dianggap sudah sama derajatnya dengan Nasionalisme. Karena, sejujurnya menurut saya, agama hanya buah pikir manusia dampak dari relung kosong yang tidak terjelaskan. Yang kedua adalah sikap hati dan dasar pola pikir terhadap makna dan sejarah di balik perayaan itu. Berapa banyak dari umat Kristiani yang begitu tidak peduli tentang fakta-fakta sejarahnya? Hanya sekadar rutin beribadah, memahami, dan mengejawantahkan perintah-Nya. Tanpa sadar betapa rapuhnya pondasi keimanan yang mereka bangun dalam  korelasinya untuk menyikapi kebenaran.


Penulis: Dimas Dibiantara (M2 - INSA Lyon)


Sumber :
-  Khotbah Bambang Noorsena (Fakta Sejarah Natal)
-  Tulisan Alexander Maria Wang (Kalender Gregorian)
-  Wikipedia (Paus Gerejawi, Protestanisme, dan Hari Bastille)

Catatan Kaki :
1. Gereja dalam pengertian kristiani tidak selalu berarti bangunan fisik.
2. Ouikumene adalah komunitas kristen yang tidak memandang denominasi gereja. Denominasi adalah aliran-aliran doktrin yang ada di
    dalam kekristenan.
3. Franco-Indo merujuk pada orang Prancis yang menikah dengan orang Indonesia.

December 08, 2014

Fête des Lumières 2014


Fête des Lumières 2014 atau Festival of Lights atau dalam bahasa Indonesia, Festival Cahaya adalah sebuah event tahunan yang berlangsung selama 4 hari pada awal Desember di Lyon, Prancis. Acara terbesar ketiga di dunia ini, menarik lebih dari 3 juta pengunjung dari dalam dan luar negri. Acara ini berlangsung sejak 5 hingga 8 Desember 2014.

November 22, 2014

Desember ini, lihat Fête des Lumières yuk?!

Salut à tous !

PPI Lyon mengundang teman-teman PPI Prancis ke acara sortie Fête des Lumières 2014 yang akan berlangsung tanggal 6 Desember 2014.

Sekilas info tentang Fête des Lumières : sebuah acara tahunan internasional yang digelar oleh Ville de Lyon setiap tanggal 5-8 Desember. Selama 4 hari gedung-gedung dan landmarks kota Lyon akan dihiasi lebih dari 70 instalasi cahaya dan lampu-lampu yang keren. 









Di acara ini, PPI Lyon juga menyediakan akomodasi dan tur bersama. Selain itu, untuk info paket makanan silahkan kontak Anindya Widianto.

Bagi teman-teman PPI yang berminat berpartisipasi di acara sortie Fête des Lumières bersama PPI Lyon dapat menghubungi :
06 13 26 68 79
reyhanraditya@hotmail.fr

Disarankan kepada teman-teman untuk reservasi karena tempat terbatas !

A très bientôt !



October 29, 2014

“Iles des Rêves” : Melintasi Pulau-pulau Impian

Minggu, 28 September 2014, di gedung pertunjukkan CCVA Villeurbanne, warga Lyon terkesima oleh alunan musik kolintang yang mengiringi berbagai tarian tradisional Indonesia. Sore itu, para penonton, baik para pelajar Indonesia maupun warga Perancis, diajak untuk berkunjung ke pulau-pulau impian, melintasi nusantara, melalui pementasan “Iles des Rêves”.

“Iles des Rêves” merupakan pentas kebudayaan yang diselenggarakan PPI Lyon bekerja sama dengan Yayasan Bina Kreativitas Anak Bangsa. Acara ini merupakan bagian dari rangkaian acara misi kebudayaan yang bertajuk “Cultural Journey to Indonesian Islands”. Yayasan Bina Lyon merupakan kota kelima yang disambangi setelah Delft, Eindhoven, Paris, dan Nancy.




Sebelumnya, pada 19 April 2014, PPI Lyon telah mengadakan acara tahunan Soirée Culturelle Indonésienne, dengan sajian utama teater historikal Indonesia. Namun, acara kali ini mengusung konsep yang agak berbeda. Tidak hanya mengenalkan Indonesia, melalui acara “Iles des Rêves”, PPI Lyon mengajak warga Perancis untuk menjelajahi aneka keragaman budaya Indonesia, bersama-sama dengan warga Indonesia yang tinggal di Lyon.


Tari Rancak Bana oleh Sanggar Ananda


Acara dibuka dengan Tari Rancak Bana yang merupakan kombinasi antara tarian Minangkabau dengan seni pencak silat. Grup musik kolintang Kawanua mencuri perhatian dengan memadukan lagu tradisional dengan lagu barat Can’t Take My Eyes Off of You. Sambutan meriah pun kian terasa ketika para penonton memberikan standing applause ketika grup musik HiVi, yang digawangi empat pemuda Indonesia, membawakan lagu legendaris La Vie en Rose dengan harmonisasi yang sangat apik dengan musik kolintang.


Grup musik kolintang Kawanua

Penampilan Sanggar Ananda






Suguhan utama di acara ini adalah tarian tradisional dari Sanggar Ananda Kawula Muda yang dibina oleh Aditya Gumay, grup musik Kolintang Kawanua, serta grup akustik HiVi. Rangkaian pertunjukan dikemas dengan dinamis dan apik, dengan memadukan kolaborasi antara ketiga grup dan juga penampilan setiap grup secara terpisah.

Berbagai seni kebudayaan yang disajikan antara lain Tari Genjring Nusantara yang diiringi kolintang, Tari Gong Enggang dari Kalimantan Timur diiringi kolintang dan lagi Cik-cik Periuk yang dibawakan HiVi. Lagu tradisional dari Sabang hingga Merauke pun juga ditampilkan lewat paduan apik HiVi dengan kolintang yang membawakan lagu Sik-sik Sibatumanikam, Sajojo, Ayo Mama, dan Hujan Gerimis Aje. Tak lupa, sebagai grup music anak muda, HiVi juga tampil membawakan lagu mereka untuk memperkenalkan musik akustik kontemporer yang digandrungi anak muda Indonesia.

Di penutup pagelaran, seluruh penampil berkolaborasi membawakan lagu dan tarian “Inilah Indonesia”, yang memadukan parade baju adat, tarian tradisional, serta lagu kreasi untuk menunjukkan betapa beragam dan berwarnanya budaya Indonesia. Gong acara yang meriah berhasil mengundang decak kagum penonton.


Grup HiVi bersama Grup musik Kolintang Kawanua

Dea dan Ilham dari grup musik HiVi

Ezra dari Grup Musik HiVi

Camille, salah satu pengunjung yang datang, mengungkapkan kekagumannya akan budaya Indonesia. C’est très super, le spectacle! J’aime bien la festivité de la culture Indonésienne, surtout les danses et les tenues traditionnels, ce sont magnifiques“, katanya sambil menambahkan bahwa ia sangat ingin berkunjung ke Indonesia.

Bapak Ashariyadi, wakil Dubes RI yang datang sebagai tamu undangan, juga menyampaikan penghargaannya, khususnya pada PPI Lyon. “Luar biasa sekali komitmen PPI Lyon untuk mengenalkan budaya Indonesia ya, karena kegiatan budaya Indonesia di sini terasa paling hidup dibanding kota-kota lain“.


Foto Sanggar Ananda bersama Bapak Wakil Duta Besar RI dan istri.

Rasanya penilaian Bapak Hari tak berlebihan mengingat dari tahun ke tahun, PPI Lyon telah aktif dan rutin menyelenggarakan acara kebudayaan Indonesia, dan juga turut berpartisipasi di acara resmi kota Lyon untuk memperkenalkan budaya Indonesia. Bagi PPI Lyon, adalah sebuah kebanggaan untuk membawa sebanyak-banyaknya warga Lyon berkunjung ke pulau-pulai impian, menjelejahi keragaman budaya nusantara.


HiVi bersama beberapa panitia Îles des Rêves 2014