April 14, 2015

GAGASAN INOVATIF PPI LYON DALAM DIPLOMASI BUDAYA INDONESIA

Sebagai anggota perhimpunan pelajar Indonesia, bukan hal yang luar biasa jika kita diharapkan untuk memperkenalkan kekayaan budaya bangsa di negeri Napoleon ini. PPI Prancis sebagai wadah organisasi pelajar Indonesia di Prancis secara rutin telah menyertakan promosi budaya Indonesia lewat berbagai program kerjanya. Tak ketinggalan berbagai cabang PPI wilayah, di antaranya Nantes, Marseille, Toulouse, Lille, dan Lyon, turut antusias menyelenggarakan berbagai pesta budaya. Tak ayal, agenda tahunan dengan judul soirée indonésienne ataupun journée indonésienne pun sudah tak asing didengar di kalangan pelajar Indonesia di Prancis.

Di tengah berbagai festival budaya tersebut, dedikasi dari PPI Lyon patut mendapat perhatian tersendiri. Pelajar Indonesia di kota terbesar ketiga di Prancis ini tidak hanya konsisten mempromosikan budaya nusantara, tetapi juga terus melakukan inovasi dalam mengoptimalkan potensi untuk menyentuh publik Prancis.

Setelah di tahun 2014 sukses mementaskan teater sejarah di acara Soirée Culturelle Indonésienne dan menampilkan sendratari musikal dalam Iles de Rêves, di tahun 2015 PPI Lyon menggelar Festival Kuliner Indonesia (Féstival Culinaire Indonésien). Acara yang berlangsung pada Minggu, 5 April di Centre Culturel de la Vie Associative, Lyon, ini merupakan acara kebudayaan kelima yang digagas oleh PPI Lyon.

Dari tahun ke tahun, semakin terlihat kematangan tema dalam menggali kekayaan budaya Indonesia untuk diperkenalkan pada masyarakat Prancis. Dalam Festival Kuiner Indonesia ini, PPI Lyon menggadang tema “Un voyage gourmand” atau wisata kuliner.



Koordinator Fungsi Pensosbud KBRI Paris, Henry Kaitjili, mengatakan pihaknya turut bangga atas kreativitas dan inisiatif PPI Lyon untuk menggelar Festival Kuliner Indonesia yang baru pertama kali diadakan di Lyon. “PPI Lyon adalah PPI yang paling aktif dan gencar mempromosikan budaya Indonesia di Prancis, apalagi dengan adanya tema kuliner ini, bagus sekali”, komentar beliau. Bapak Henry lebih lanjut juga berharap agar acara ini dapat menjadi event rutin mengingat bahwa kuliner Indonesia memiliki potensi besar di Prancis.

Penilaian Bapak Henry sepertinya tidak berlebihan. Meski baru pertama kali muncul di publik, acara ini dipadati pengunjung. Sekitar 300 pengunjung dari Lyon dan sekitarnya antusias mencicipi berbagai sajian khas Indonesia. Dengan konsep bazaar, pengunjung bebas memilih aneka hidangan yang menarik selera. Tak kurang dari 33 jenis makanan dan minuman disajikan mulai dari aneka cemilan seperti klepon, molen, martabak telur, lumpia, risoles, tahu isi, siomay hingga menu lengkap seperti nasi rendang, mie goreng, nasi goreng, bakso, pempek.


Dari kanan - kiri: Ketua PPI Lyon Reyner, Ibu Kepala ITPC Endang Suprihatin, Siti Fhatimah, Bpk. Duta Besar Hotmangaraja Pandjaitan, Annisa Azzahra, Margaretha Audrey, Bpk. Kepala Fungsi Penerangan Sosial-Budaya Henry Kaitjily.

Makanan yang gurih seperti bakso, mie goreng, dan nasi goreng tampaknya menjadi favorit warga Prancis. “Saya pernah ke Indonesia dan saya sangat senang mie goreng. Saya datang ke sini karena rindu rasa masakan ini”, komentar Leila, warga Chambéry yang rela datang ke Lyon.

Selain masakan, terdapat pula stand yang menjual aneka produk Indonesia seperti mie instan, kecap, kerupuk udang, sambal pecel, yang sering dicari para diaspora dan pelajar Indonesia di Prancis. Menurut Ibu Endang Soewandi, ketua Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) di Lyon, acara ini jadi kesempatan yang baik untuk memperluas promosi produk-produk Indonesia, khususnya dalam industri makanan yang nilai ekspornya cukup besar.

Berbagai pentas seni budaya juga disuguhkan sepanjang acara yang berlangsung sejak pukul 13.00 hingga 17.00, antara lain tari saman, tari merak, tari cendrawasih, serta lagu tradisional dengan iringan kecapi dan rampak gendang. Tidak hanya itu, berbagai kegiatan kreatif juga dipersembahkan, seperti demo masak dari chef KBRI, tari poco-poco bersama, peragaan busana adat, serta photo booth dengan mengenakan kostum tradisional. Para pengunjung pun dapat menikmati makanan serta pertunjukan seni budaya sambil membaca berbagai brosur pariwisata dan bahan promosi lain tentang Indonesia.


Citra Hadiputri menari Tari Cendrawasih dari Bali

Dennisa Tonbeng menarikan Tari Jaipong dari Jawa Barat

Putri Afiyah, Tiara Dewi, Citra Hadiputri, Prafitra Viniani, Prawita Vidiasari, Siti Fhatimah, Naila Firdaus, Anindya Widianto, Annisa Azzahra, Margaretha Audrey dan Diani Maharani membawakan Tari Saman dari Aceh

Arie Fitria menarikan Tari Sigeh Pengunten dari Lampung

Prawitra Vidiasari membawakan Tari Merak dari Jawa Barat

Kuliner, Strategi Diplomasi Budaya Efektif di Lyon

Menurut ketua PPI Lyon, Reyner, mulai tahun ini, PPI Lyon memfokuskan pada promosi budaya Indonesia lewat kuliner. Mengapa kuliner? “Kuliner dihadirkan sebagai benang merah dengan karakter kota Lyon yang terkenal sebagai ibu kota gastronomi Prancis”, jawabnya. Salah satu tujuan acara ini juga adalah menegaskan peran pelajar Indonesia dalam mempromosikan kekayaan budaya Indonesia lewat kuliner.  “Kami ingin menyambut ajakan Presiden Jokowi untuk memperkenalkan ragam makanan nusantara sebagai salah satu daya tarik budaya Indonesia”, tambahnya.

Dengan spesifikasi tema sesuai dengan karakter publik yang disasar, PPI Lyon sukses menerapkan salah satu strategi promosi budaya efektif. Gagasan untuk menggali kekayaan kuliner menjadi cara yang tepat untuk menarik warga Lyon. Kuliner menjadi titik kesamaan (common point) antara karakter publik yang disasar dengan acara yang disuguhkan. Selain itu, ragam makanan dipadukan dengan pementasan seni menjadi selling point utama acara ini. Paduan antara tema yang tepat, konsep yang matang, serta eksekusi yang rapi menjadi kunci keberhasilan untuk menarik antusiasme warga Prancis untuk mengenal Indonesia.

Hasilnya, sejumlah pengunjung sangat mengapresiasi rangkaian kegiatan yang dihadirkan di Festival Kuliner Indonesia. Mélanie, warga Lyon, mengatakan dirinya sebelumnya tak tahu banyak tentang Indonesia. “Saya seperti mengunjungi negara yang sangat kaya budaya, terutama tarian dan makanan kalian benar-benar luar biasa”, katanya. Hiroko, seorang warga negara Jepang yang studi di Prancis juga menyatakan pendapat senada, “Sungguh ide yang brilian untuk memperkenalkan Indonesia lewat kuliner dan pentas seni dari para pelajar”.



Juara Festival Budaya di Chambéry

Selain menyelanggarakan festival kuliner di Lyon, upaya PPI Lyon mempromosikan budaya Indonesia kepada masyarakat Prancis juga membuahkan hasil manis di Chambéry, yang masih menjadi wilayah kerja PPI Lyon. Dalam acara Tour du Monde au Manège yang digelar oleh IAE de Savoie  pada 3-4 April 2015, perwakilan Indonesia dipilih oleh pengunjung sebagai Juara I dalam bidang Partisipasi dan Dinamisme.

Hasil ini sangat berkesan karena Indonesia baru pertama kali berpartisipasi dalam pesta kebudayaan tahunan di Chambéry yang telah diselenggarakan sejak tahun 1990 ini. “Meski baru pertama kali tampil, Indonesia benar-benar partisipatif dan mampu menyambut pengunjung dengan ramah. Kami tentu berharap Indonesia dapat menjadi peserta rutin”, ujar Océan Picot, Ketua Penyelenggara Tour du Monde au Manège 2015.




Tercatat tidak kurang dari 4000 warga Prancis datang ke acara ini dalam dua hari penyelenggaraan. Stand Indonesia termasuk yang paling diminati, terlihat dari banyaknya apresiasi atas makanan yang disajikan yaitu kue pandan, martabak telur, dan martabak manis. Pengunjung juga menikmati berbagai ragam budaya Indonesia, mulai dari alunan lagu tradisional, instrumen musik Rindik, wayang kulit, dan produk-produk Indonesia. Berbagai brosur pariwisata disediakan bagi pengunjung yang ingin bertanya mengenai seluk beluk kunjungan wisata. Stand Indonesia juga menarik perhatian karena adanya photo booth yang memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk berfoto dengan mengenakan baju adat Minang.

Indonesia juga mengisi acara di panggung dengan menampilkan Tari Ronggeng Menor khas Bekasi. Tepuk tangan ratusan penonton yang memadati panggung membahana saat pentas tari tradisional usai. Tampak jelas dari pujian terhadap keindahan dan keberagamannya, Indonesia telah mendapat tempat di hati masyarakat Prancis.

Dari prestasi yang membanggakan di Chambéry, ada satu catatan yang menarik, yakni pelajar Indonesia yang mengorganisasi stand Indonesia dalam acara ini hanya lima orang. Di Chambéry memang hanya ada tiga mahasiswa Indonesia, ditambah bantuan dua orang yang datang dari Lyon. “Kami ingin membuktikan bahwa keterbatasan jumlah bukan halangan untuk berkontribusi mempromosikan budaya Indonesia”, ujar Bastian Okto, mahasiswa S3 di Chambéry yang juga mantan ketua PPI Lyon.

Di tengah kepadatan studi dan keterbatasan tenaga, para anggota PPI Lyon ini rela secara swadaya dan gotong-royong mewujudkan keinginannya dalam mengenalkan Indonesia. Tentunya, wujud semangat kecintaan dan kebanggaan pelajar Indonesia ini patut mendapat dukungan dan apresiasi tinggi.

Putri Afiyah menarikan Tari Ronggeng Menor dari Bekasi
PPI Lyon di Chambéry: Bastian Okto, Putri Afiyah, Awatrawika


Diplomasi Budaya dan Kerjasama Pelajar Antarbangsa

Berbagai aktivitas yang digagas PPI Lyon d atas merupakan wujud nyata untuk membangun hubungan antarbangsa melalui people to people diplomacy atau upaya diplomasi yang dilakukan oleh elemen-elemen non pemerintah secara tidak resmi. Upaya sering disebut sebagai Diplomasi Budaya, yang menjadi salah satu instrumen penting dalam menjalin hubungan baik dengan bangsa lain di samping mengokohkan karakter suatu bangsa.

Diplomasi budaya adalah salah satu bagian dari diplomasi publik yang saat ini digencarkan pemerintah Indonesia sebagai langkah bahwa tidak hanya pemerintah yang bisa aktif bekerja sama dengan negara luar tapi unsur atau aktor swasta dan masyarakat sipil seperti dalam hal ini pelajar Indonesia yang bertujuan mengenalkan budaya Indonesia dan diharapkan tercapai nilai saling menghormati, damai, dan penuh keharmonisan.

Menyadari peran penting pelajar dalam diplomasi budaya, PPI Lyon juga terus mengembangkan upaya dalam menguatkan relasi Indonesia dengan bangsa lain. Salah satunya adalah melalui kerja sama dengan asosiasi pelajar negara lain, yang telah diwujudkan dalam Festival Kuliner Indonesia kemarin.





Dalam acara ini, PPI Lyon merangkul asosiasi mahasiswa Malaysia, MASAF, untuk ikut serta menyajikan makanan khas Malaysia seperti kue keria, ubi kledek dan teh tarik. “Dari acara ini, selain untuk mempromosikan Malaysia, kami juga memetik manfaat untuk menjalin pertemanan dengan orang Indonesia,” ujar Azizi, Ketua MASAF wilayah Grenoble-Lyon.


Arief Mirkhaél Nazli perwakilan dari MASAF menampilkan Lagu Warisan oleh Allahyarham Sudirman

Tiara Kurniasari, Ketua Panitia Festival Kuliner Indonesia, menyatakan bahwa salah satu harapan diadakannya acara ini adalah sebagai bentuk kontribusi pelajar dalam membangun jalinan kerjasama dan persahabatan dengan negara tetangga dalam promosi budaya. Meski Indonesia-Malaysia acapkali berbenturan dalam persoalan klaim budaya, undangan bagi negara tetangga ini sekaligus mengukuhkan karakter diplomasi Indonesia,“million friends, zero enemy”.

Ke depannya, PPI Lyon juga berencana untuk memperluas partisipasi negara tetangga dengan mengundang negara-negara seluruh ASEAN. Proyeksi ini menjadi bagian dari rencana strategis PPI Lyon menyambut ASEAN Community 2015. Dengan diresmikannya ASEAN Community, Indonesia tentu menghadapi tantangan tersendiri akibat meningkatnya persaingan di kawasan ASEAN. Namun, dalam mengatasi tantangan ini, penting untuk mengedepankan kolaborasi di atas kompetisi.

Dengan menggandeng negara tetangga dalam misi diplomasi budaya, tidak hanya tujuan eksternal untuk mempromosikan akar budaya ASEAN pada masyarakat Prancis yang dapat tercapai. Di level internal, pelajar Indonesia dapat menjadi pilar untuk memperkuat solidaritas antarbangsa sekaligus memperluas jaringan yang tentunya bermanfaat bagi diri sendiri maupun bangsa Indonesia.


Publikasi media lokal, Le Progrès, mengenai acara Festival Culinaire Indonésien 2015

Bhinneka Tunggal Ika: Foto bersama PPI Lyon di akhir acara dengan Ibu-ibu Franco-Indonesia, pengunjung acara dan MASAF


Penulis: Aulia Nastiti ( M2 Cultural Studies - Université Lyon 3 )


March 10, 2015

FESTIVAL CULINAIRE INDONÉSIEN 2015 [À VENIR]






Festival Culinaire Indonésien 2015 est un événement culturel organisé par l'Association des étudiants Indonésiens de Lyon (PPI Lyon). Il s'agit d'une promotion de la gastronomie indonésienne en engageant quelques associations venant des pays de l'Asie du Sud-Est, accompagné avec des performances culturelles.

Prennant le concept d'un bazar, il y aura des stands alimentaires de chaque collaborateur qui présente les nourritures typiques accompagnées avec des informations générales. Ces aliments sont obligatoirement présentés en petites portions fournies par le comité, dans le but d'attirer les visiteurs de pouvoir goûter le plus maximum possible les plats proposés.

Date: Dimanche, 5 Avril 2015

Horaires: 12h-14h // 15h-17h

Lieu: 
Centre Culturel et de la Vie Associative 
234 cours Emile Zola
69120 Villeurbanne
Metro A - Flachet

Tarif d'entrée: 3€ plein tarif, gratuit pour les moins de 5 ans

Réservation: ppi.di.lyon@gmail.com // 07 78 35 22 76 // 07 87 96 32 00

À Bientôt!  :D



February 20, 2015

Apa itu "Taxe d'Habitation"?

Prancis merupakan Negara yang memiliki cukup banyak jenis pajak, seperti pajak penghasilan, pajak konsumsi, pajak bumi dan bangunan, pajak tempat tinggal, pajak kendaraan, dan masih banyak lagi. Pajak-pajak tersebut merupakan pemasukan untuk Negara yang kemudian disalurkan kembali pada masyarakat yang berhak dalam bentuk bantuan atau yang sering kita sebut allocations.

Beberapa pajak yang akrab dengan kita yaitu pajak konsumsi, yaitu yang selalu dikenakan pada kita ketika kita membeli suatu barang. Juga pajak penghasilan, bagi yang sudah berpenghasilan dengan pendapatan mencapai SMIC atau upah minimum dan pajak tempat tinggal. Tentu saja, pajak-pajak tersebut bukanlah jumlah yang kecil untuk dibayarkan.

Dalam artikel ini, kita akan membahas tentang pajak tempat tinggal atau yang sering disebut dengan Taxe d’Habitation. Apakah pajak tempat tinggal itu? Pajak tempat tinggal merupakan pajak yang dikenakan pada penduduk atau masyarakat yang memiliki atau menghuni logement atau tempat tinggal. Jumlah yang wajib dibayarkan oleh setiap orangnya tidak sama, tergantung berapa luas tempat tinggal yang dihuni, daerah atau kawasan tempat hunian, jenis tempat tinggal, dan berapa jumlah tempat tinggal yang dihuni atau dimiliki.

Uniknya, penghitungan “harga”  yang wajib dibayarkan dilihat dari di mana alamat yang kita pakai pada tanggal 1 Januari tahun sebelumnya. 

Untuk lebih jelasnya, mari kita simak ilustrasi berikut: Pada tanggal 1 Januari 2014 Nina bertempat tinggal di rue des Roses, suatu apartemen di daerah tengah kota dengan luas 25m2. Ia berkeinginan untuk pindah ke tempat lain, yang lebih murah. Untuk itu, ia mencari tempat yang lebih kecil dan menyingkir dari pusat kota. Lalu, pada bulan April 2014, Nina berpindah ke suatu studio dengan luas 15m2 di pinggiran kota, tepatnya di rue Poisson. Pada bulan Maret 2015, Nina mendapat surat dari « Département des Finances Publiques »-- yang di Indonesia kita sebut dengan DIrektorat Jendral Pajak--berkenaan dengan pajak yang wajib ia bayar. Di surat tersebut, akan tertera alamat yang terkena pajak yaitu rue des Roses, dengan jumlah yang harus dibayarkan sebesar 500€. Di sini, bisa kita simpulkan bahwa meskipun kita telah berpindah ke rumah yang lebih kecil, harga sewa lebih murah, pajak yang dikenakan pada kita tetap saja tempat tinggal kita per tanggal 1 Januari tahun sebelumnya, seperti yang telah dijelaskan di atas dan begitu juga bila kita sebelumnya tinggal di tempat yang kecil dan terletak di pinggiran kota, kemudian pindah ke rumah yang lebih besar di pusat kota, pajak yang dikenakan adalah rumah yang sebelumnya atau yang kecil tersebut.

Pembayaran taxe d’habitation ini juga berkaitan dengan contribution à l’audiovisuel public atau pajak televisi. Pemilik televisi diwajibkan membayar pajak, tapi tidak ada kewajiban bagi pemilik komputer yang menggunakan carte télévisé atau kartu televisi. Jika kita tidak memiliki televisi, kita bisa melaporkannya ke Départment des Finances, sehingga pajak yang perlu kita bayarkan akan berkurang.

Selanjutnya, yang perlu kita ketahui adalah siapa saja yang wajib membayar pajak tersebut? Menurut site www.impots.gouv.fr orang yang menepati tempat tinggal, baik itu pemilik, penyewa, orang yang menumpang di rumah orang lain, siapapun itu dengan jumlah yang variatif tergantung jenis tempat tinggal, luas, kawasan dan sebagainya seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Namun, ada juga tempat tinggal yang penghuninya tidak diwajibkan membayar pajak. Yaitu logements CROUS, logements étudiants atau asrama mahasiswa yang bekerja sama dengan CROUS, maison de retraite atau rumah jompo. Selainnya, menjadi wajib pajak secara hukum.






Menurut situs www.impots.gouv.fr, surat akan dikirimkan setiap akhir tahun. Setelah mendapatkan surat ini, kita diminta untuk segera membayar jumlah yang dibebankan. Pembayaran pajak ini bisa dilakukan dengan beberapa cara yang cukup praktis:
  1. Pembayaran melalui smartphone. Pertama-tama, download aplikasi “impots.gouv” di App Store atau Google Play. Kemudian scan barcode dan ikuti petunjuk.
  2. Pembayaran online. Pembayaran juga bisa dilakukan secara online di situs http://www.impots.gouv.fr atau melalui link berikut https://www.telepaiement.dgfip.finances.gouv.fr/stl/satelit.web? templatename=accueilcharpente&contexteinitial=2 Wajib pajak hanya perlu memasukkan nomor referensi atau numéro fiscal, kemudian ikuti tahap-tahap berikutnya
  3. Pembayaran melalui cek/TIP. Hanya perlu mengirimkan amplop balasan dengan menyertakan RIB (nomor rekening) kita dan TIP yang terdapat pada ujung surat tagihan pajak.
  4. Pembayaran secara tunai. Pembayaran dilakukan di kasir département des finances publiques di setiap wilayah. Namun pembayaran ini hanya terbatas hingga jumlah maksimal 300€. Lebih dari jumlah tersebut, diharuskan melalui cara-cara yang telah disebutkan diatas.
  5. Pembayaran berkala. Mengingat jumlah yang perlu dibayarkan tidak sedikit, kita bisa meminta keringanan dengan cara menyicil pembayaran setiap bulan. Hal ini dilakukan maksimal 10 kali pembayaran.




Pembayaran-pembayaran tersebut sebaiknya dilunasi sebelum jatuh tempo sesuai yang tertera di surat tagihan. Jika melihat di sumber informasi terpercaya seperti situs milik pemerintah Prancis atau Wikipedia, surat akan dikirimkan pada akhir tahun, sekitar bulan November atau Desember.
Namun, menurut pengalaman pribadi, saya selalu mendapat tagihan tersebut di sekitar awal tahun, bulan Maret-April. Apabila hingga jatuh tempo kita tidak juga membayar atau mengurus Taxe d’Habitation ini, maka Département des Finances akan mendebit secara otomatis jumlah yang harus kita bayar melalui rekening kita. Kok Bisa?

Sistem informasi di Prancis yang baik memungkinkan kita dengan mudah mengakses informasi yang kita butuhkan. 

Tentu saja, informasi yang disebarluaskan ke masyarakat umum memiliki batasan. Namun, untuk institusi pemerintah, mereka memiliki wewenang lebih jauh dalam mengkases data-data personal ini. Contohnya, ketika pelunasan pajak sudah jatuh tempo dan kita tidak juga membayarnya, Département des Finances bisa mendapat informasi nomor rekening kita. Misalnya, informasi mengenai akun bank dapat diperoleh dari EDF (yang merupakan perusahaan listrik negara) di mana kita harus menunjukkan rekening bank untuk memiliki akun di EDF ini. Berikutnya, ketika Département des Finances ini mendebit paksa rekening kita, kita juga harus membayar charge yang dikenakan oleh bank dengan jumlahnya tidak sedikit sebagai biaya administrasi dari pendebitan tersebut. Oleh karena itu, sesibuk apapun kita, usahakan untuk segera menyelesaikan administrasi yang menjadi kewajiban kita, sehingga tidak menimbulkan masalah yang semakin berbelit-belit.

Tidak hanya pajak tempat tinggal yang perlu kita urus, sebelumnya kita juga harus mengurus laporan pajak penghasilan, yang akan menjadi bekal untuk kita mengurus pajak tempat tinggal ini. Laporan pajak penghasilan ini harus dibuat oleh semua orang yang telah menginjak usia major atau di atas 18 tahun, baik yang telah berpenghasilan maupun yang belum berpenghasilan. Fiche atau bendel ini bisa kita dapatkan di kantor Dirjen Pajak setempat atau download melalui situs www.impots.gouv.fr atau bisa juga melalui www.caf.fr .




Apakah kita sebagai pelajar asing juga memiliki kewajiban membayar pajak? Jawabannya, bisa iya, bisa juga tidak. Tergantung situasi yang kita miliki. Kita menjadi wajib pajak ketika kita memiliki penghasilan di Prancis, kemudian apabila kita pelajar namun orang tua kita memiliki penghasilan di Eropa. Kalau begitu, pelajar yang tidak memiliki penghasilan dan orang tuanya juga tidak bekerja di Eropa tidak akan dikenakan pajak ya? Jawabannya: Belum tentu.

Yang pasti, pelajar bisa diberi keringanan jumlah yang harus dibayarkan hingga dibebaskan sama sekali. Kok bisa? Bagaimana caranya?. Sebenarnya, tidak ada tips dan trik khusus untuk meminta keringanan, kita hanya perlu mengikuti alurnya.

Pertama-tama, datanglah ke Département des Finances setempat dengan positive thinking dan berdoa. Pegawai di Département des Finances adalah orang-orang yang baik dan ramah, jadi kita juga harus ramah pada mereka.

Yang kedua, jelaskan situasi dan kondisi kita. Katakan bahwa kita adalah pelajar asing, kita tidak memiliki penghasilan, orang tua kita tidak berpenghasilan di Eropa. Di situ kita menyampaikan keinginan kita untuk meminta keringanan biaya yang dibebankan.  Petugas pajak kemudian akan mempelajari lebih lanjut situasi ekonomi kita. Biasanya, yang pertama kali diminta adalah “Fiche déclaration des révenus” atau laporan pajak penghasilan. Petugas yang berada di accueil atau di meja depan akan memastikan bahwa penghasilan kita 0 (nol). Kemudian, petugas akan meminta kita untuk menunjukkan bulletin rekening kita selama kurang lebih 3 bulan. Lalu, petugas juga akan bertanya status kita saat ini sebagai pelajar di mana dan siapa yang membiayai.

Jika syarat-syarat yang diminta memenuhi kriteria mereka, mereka akan mempelajari lebih lanjut status keuangan kita dan kita akan dipertemukan dengan konsultan pajak. Konsultan ini, akan bertanya hal-hal basic pada kita, seperti yang telah ditanyakan di accueil. Kemudian, dia juga akan meminta bulletin rekening selama 3 hingga 4 bulan, bukti pembayaran rumah, jumlah pengiriman dari CAF, dan bukti pembayaran kuliah.

Di sini, kita perlu sedikit berargumen memohon keringanan. Kita mungkin perlu menjelaskan lagi dan kita harus bisa meyakinkan bahwa kita hidup sebagai pelajar yang pas-pasan dengan bukti yang ada. Karena petugas benar-benar teliti melihat bulletin rekening kita, kita bisa buktikan bahwa pengeluaran kita perbulan benar-benar hanya untuk kebutuhan pokok seperti rumah, transportasi, komunikasi, kebutuhan kuliah, makan, sedikit hiburan dan lain-lain. Kita juga bisa menambahkan bahwa unuk membayar Sécurité sociale atau asuransi wajib saja sudah mengeluarkan biaya besar.

Setelah petugas memahami keadaan kita, dia akan meminta kita untuk membuat surat “demande de dégèvement” atau permintaan keringanan dengan menyertakan bulletin rekening dan pembayaran kuliah. Berikut link yang bisa menjadi acuan untuk meminta keringanan.

Beberapa hari kemudian, kita akan menerima jawaban dari Département des Finances. Ada dua kemungkinan yang terjadi, yaitu jumlah yang harus kita bayarkan berkurang atau kita dibebaskan dari pajak. Jika jumlah tersebut masih terasa berat, kita bisa datang lagi untuk meminta agar pembayaran bisa dilakukan dicicil. Cicilan ini juga tergantung dari jumlah yang harus kita bayarkan. Meskipun di situs resmi pemerintah tertera 10 kali pembayaran maksimal, namun pada praktiknya ada juga yang hanya mendapatkan 6 kali cicilan maksimal. Selain itu, kita harus memastikan bahwa kita menerima hasil dari persetujuan tersebut secara tertulis, bukan hanya secara lisan. Jika secara lisan saja, bisa jadi data kita belum diubah ke persetujuan yang terbaru dan paling buruknya kita bisa didenda.

Kiat-kiat dalam pengurusan pajak tersebut sudah saya buktikan langsung dari pengalaman pribadi saya yang telah dua kali menerima surat fenomenal ini. Pertama kali saya menerima surat fenomenal tersebut pada bulan Januari 2013, kemudian saya membuat laporan ke Département des Finances dan mereka langsung membebaskan saya dari status wajib pajak dan memberi surat jawaban satu bulan kemudian.  

Kedua kalinya, pada April 2014 saya menerima surat tagihan tersebut, dengan tanggal jatuh tempo sekitar bulan Juli-Agustus. Pada bulan Mei saya mengurus de Département des Finances. Saya datang untuk meminta keringanan dan pegawai pajak tersebut menyetujui untuk membebaskan saya dari pajak tersebut. Sekembalinya saya dari Indonesia pada bulan September, saya mendapat 2 surat, pertama dari Département des Finances yang menyatakan bahwa saya telah melewati masa jatuh tempo pembayaran pajak hingga rekening saya didebit otomatis, dan kedua surat dari Bank yang menyatakan pendebitan otomatis dan charge sebesar 110€. Kemudian, saya kembali lagi ke kantor tersebut dan menjelaskan bahwa saya semestinya dibebaskan. Karena ada sedikit masalah dari database mereka, petugas pajak kemudian mengkonfirmasi bahwa saya dibebaskan dan uang yang telah didebit sebelumnya akan dikembalikan satu  bulan kemudian.

Lalu bagaimana dengan charge yang dikenakan bank? Tentu saja bank tidak mau mengembalikan karena tugas mereka hanya menjalankan mandate pemerintah. Namun, kabar baiknya kita bisa meminta pada Départment des Finances untuk mengganti charge yang telah dikenakan pada kita, dengan cara menulis surat dan menyertakan RIB, attestation sécurité sociale dan bukti biaya charge yang dikenakan oleh Bank. Untuk isi suratnya, kita bisa minta tolong pada pegawai pajak untuk menuliskannya karena mereka tahu bahwa kita orang asing yang tidak akrab dengan birokrasi seperti ini.



Itu semua yang bisa saya bagi tentang pengalaman mengurus pajak di Prancis. Menghadapi birokrasi Prancis memang tidak sederhana, tetapi tidak sulit pula bila kita mengikuti aturan yang ada. Sebagai pendatang, sebaiknya kita patuh pada aturan yang telah ditetapkan negara ini dan sampaikan dengan baik bila ada keluhan. Ingatlah selalu bahwa apa yang kita lakukan disini akan membawa pengaruh terhadap nama Indonesia. Semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi kita semua.



Penulis: Anggawestri Nabila (LEA Anglais Japonais - Université Jean Moulin Lyon 3)